MAHASISWA, ANTARA STATUS DAN PERANAN



Bukan istilah baru lagi bahwa pemuda adalah the agent of change. Bahkan sambil ngiler di atas kasur pun, kita pasti dapat meneruskan jargon tersebut seandainya ada yang iseng ngasih tebakan. Namun, sudah sejauh manakah pernyataan tersebut telah kita pahami dalam alam bawah sadar kita sehingga tanpa perlu diingatkan lagi, seluruh perilaku kita tersetting benar-benar kearah sana.
Disini saya tidak akan membicarakan kita hanya sebagai seorang pemuda, namun, lebih dari itu saya akan mengajak kita memikirkan kembali tentang peranan kita sebagai seorang mahasiswa. Ya, mahasiswa dari dulu identik dengan kaum elit intelektual yang sering diandalkan sebagai penggerak roda pembaharu. Tidak perlu saya cek lagi, kita semua pasti sudah sangat hafal dengan kronologi peristiwa bersejarah pada tahun 1998. Dimana mahasiswalah yang dengan idealismenya, mereka mampu menggulingkan dinasti kekuasaan Soeharto. Mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual tertinggi dan ditunjang oleh jiwa yang masih berapi-api. Hingga patut diingat pula peristiwa berdarah trisakti yang telah memakan korban para pemuda militan yang telah memperjuangkan sebongkah arti keadilan dan kesejahteraan.
Itu masa lalu..
Sekarang mari kita memutar kepala dan menatap ke depan. Silahkan mencari sosok mahasiswa dan amati (atau kalau nggak ada, tengok kanan-kiri juga boleh). Masihkah ia seperti mahasiswa yang dulu digambarkan?
Sedikit miris dengan apa yang telah terjadi saat ini. Saat Negara ini dirundung mendung tebal karena ulah para penguasanya. Saat banyak rakyat merangkak dan bersimbah ketidakberdayaan hanya untuk mempertahankan keberlangsungan detak jantungnya. Saat para pemburu kekayaan dengan sangat rakus meraup sebanyak-banyak rupiah dengan segala cara. Saat para public figure semakin menampakkan kebrobrokan moral yang dibuat seakan-akan itu adalah hal yang wajar. Saat adik-adik ABG kita sedang galau mencari jati diri mereka. Dan saat semuanya begitu terasa rumit untuk diselesaikan. Dimanakah posisi kita saat ini sebagai seorang mahasiswa?
Sudahkah kita geram dan bergerak saat mengetahui ketidakberesan di palemen sana? Sudahkah kita menangis saat mengetahui tetangga atau orang-orang di sekeliling kita yang hanya mampu mengumpulkan nasi aking untuk makannya hari itu? Sudahkan kita kritis terhadap tingkah polah yang tidak jelas bahkan tidak layak untuk diperlihatkan oleh orang-orang yang dijadikan idola sebagian besar masyarakat? Sudahkah kita tergerak untuk mengulurkan tangan dan menuntun calon generasi pengganti kita kelak saat mereka kehilangan pegangan hidup dan bingung harus lari kemana? Apa yang sudah kita lakukan sebagai seorang mahasiswa?
Kini saya ajak Anda untuk terjun ke realitas kehidupan mahasiswa. Tidak memungkiri bahwa ada beberapa yang masih care dengan kehidupan social dan lingkungan. Namun, sering saya tersenyum kecut (untung masih bisa tersenyum) saat mendapati ada saja mahasiswa yang masih pusing saat muncul satu jerawat di jidatnya. Padahal di tempat lain, banyak orang yang untuk mendapatkan air bersih untuk mandi saja sulit. Banyak mahasiswa yang frustasi saat dirinya sebulan nggak ada yang ngapelin, padahal di tempat lain, banyak anak-anak jalanan yang miskin kasih sayang. Orang yang seharusnya mengayomi mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa selain memaksa dan memforsir mereka ikut terjun ke jalanan untuk mencari receh demi receh penyambung hidup. Saat kita bingung mau makan apa, di sepetak tanah lain, ada keluarga yag bingung mencari apa yang bisa dimakan. Saat kita dengan bebasnya tertawa dan bercanda, ternyata di waktu yang sama, di belahan bumi yang lain, ada seorang insan yang sedang meratapi makam orang yang selama ini menjadi tulang punggungnya. Sadarkah kita?
Tunggu, bukannya saya melarang mahasiswa tidak melakukan itu semua. Wajar saja saat kita mengalami apa yang sudah saya sebutkan di atas. Secara, mahasiswa juga manusia. Namun, seyogyanya, kita tidak berlebihan dalam mencukupi diri sedangkan Negara ini sedang membutuhkan tenaga dan pikiran kita untuk menyelesaikan masalah yang ada.
Ingat, mahasiswa bukanlah hanya sebatas status dan senjata untuk mencari kerja yang layak nantinya. Namun lebih dari itu, mahasiswa adalah kasta yang paling dibanggakan dalam sebuah komunitas. Ada amanah-amanah yang secara de facto telah diletakkan di bahu-bahu kita tanpa adanya perjanjian tertulis. Ibarat pilm di tipi-tipi, kemenangan akan diraih setelah sekian lama diperjuangkan oleh tokoh utama. Sunnatullah kalau kebenaran itu pasti menang. Namun yang jadi pertanyaan, akankah kita menjadi tokoh yang ikut berperan dalam meraih kemenangan itu ataukah hanya sebatas sebagai penonton peradaban?
Sedikit selingan, saya jadi ingat saat danus pakaian bekas di pasar kaget kemarin. Sambil menunggu pembeli, ada temen saya yang cerita, bahwa pakaian-pakaian bekas ini dapat dijual sedikit lebih mahal dan bisa habis dalam waktu yang lumayan singkat. Alasannya sederhana, karena pakaian-pakaian tersebut bekas mahasiswa. Saya tersenyum, ternyata mahasiswa lumayan dikultuskan sama orang-orang sini. Apalagi mereka yang istilahnya wong cilik. Yang sering ditipu orang-orang berpangkat dan dengan kepolosan jiwa, mereka menaruh harapan kepada kita mahasiswa agar kelak kita mampu membuat perubahan terhadap kondisi Negara yang cukup carut marut ini.
Dan akhirnya, sudah cukup jelas ternyata posisi kita selaku sebagai seorang mahasiswa. Tidak hanya privat oriented, tapi sudah seharusnya untuk mulai memikirkan public oriented. Maaf kalau tulisan ini kental dengan status saya sebagai staff soskemas BEM FEM IPB. Ini hanya pengingatan akan peranan kita yang sebenarnya sangatlah universal, tidak parsial dan dangkal, sebatas 3K, kampus-kantin-kosan. Oke, selamat membangun peradaban, menuju Indonesia yang lebih baik. FEM DAHSYAT!!!

2 komentar:

  1. euis anovani mengatakan...:

    Wah.. Super sekali postinganmu din.. Kadang saya juga punya keinginan untuk melakukan perubahan, tapi kya'nya baru sekedar numpang lewat aja. Percuma kan kalo ga ada realisasinya?!"Saya pengen ini, saya pengen itu" .. Tapi GA ADA ACTION! gimana dong din???

  1. Dina Rosyidha mengatakan...:

    hhe... ini juga pas lagi dapet ilham is. biasanya juga nggak seheroik ini..

    yah udah bagus lah is, udah punya kemauan untuk melakukan perubahan.
    tinggal euis perlu memompa semangat berlebih untuk merealisasikannya. jika keinginan itu sudah bulat dan menggebu-gebu, maka secara nggak sadar, keinginan itu akan menggiring kita untuk melakukannya. walaupun kecil.

    ayo is, kita berfastabiqul khoirot \(^_^)/

Posting Komentar

Another Templates

TIMES NOW


Followers

Kunjungan

About

Blogroll

Blogger templates

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

bahasa bumi

Popular Posts

Tentang Saya

Foto saya
kini saya menjadi seseorang yang merantau jauh-jauh hanya untuk sesuap ilmu. berharap ilmu yang didapatkan mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik tidak hanya untuk saya pribadi tetapi juga untuk lingkungan sekitar saya. berpetualang dan jalan-jalan menjadi hobbi saya. bukannya aktivitas tanpa makna, tetapi terlebih saya memang suka ke tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru dan mengais pengalaman-pengalaman baru. jadi, yuk main..

Cari Blog Ini